Kategori Identifikasi
Hambatan yang Dapat Diidentifikasi
Instrumen observasi terstandar untuk hambatan belajar utama pada anak usia sekolah dasar.
Tunadaksa
Hambatan fisik atau motorik yang mempengaruhi kemampuan gerak dan fungsi tubuh anak.
Down Syndrome
Kondisi genetik trisomi 21 yang menyebabkan hambatan intelektual dan ciri fisik khas.
Prader-Willi Syndrome
Kelainan genetik langka yang menyebabkan hiperfagia, hambatan intelektual, dan disregulasi emosi.
Fragile X Syndrome
Gangguan genetik terkait kromosom X yang menyebabkan hambatan intelektual dan hipersensitivitas sensorik.
Williams Syndrome
Kelainan genetik langka dengan ciri khas kepribadian sangat ramah, hambatan kognitif, dan hipersensitivitas suara.
Tunagrahita
Hambatan intelektual yang mempengaruhi kemampuan kognitif, sosial, dan adaptif anak.
Disleksia
Kesulitan belajar spesifik dalam membaca dan mengeja yang tidak berkaitan dengan kecerdasan.
Disgrafia
Kesulitan belajar spesifik dalam menulis yang berkaitan dengan motorik halus dan representasi tulisan.
Diskalkulia
Kesulitan belajar spesifik dalam matematika dan pemrosesan angka yang tidak berkaitan dengan kecerdasan.
Slow Learner
Anak yang memiliki kemampuan akademik di bawah rata-rata namun tidak termasuk tunagrahita.
Tunanetra (Totally Blind)
Hambatan penglihatan yang mempengaruhi kemampuan visual anak.
Tunanetra (Low Vision)
Hambatan penglihatan berat namun masih memiliki sisa penglihatan fungsional yang dapat dioptimalkan.
Tunarungu
Hambatan pendengaran yang mempengaruhi komunikasi, perkembangan bahasa, dan interaksi sosial anak.
Autism (ASD)
Gangguan perkembangan spektrum yang mempengaruhi komunikasi sosial, perilaku, dan pemrosesan sensorik.
ADHD
Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas yang mempengaruhi konsentrasi, impulsivitas, dan aktivitas anak.
Gangguan Emosi & Perilaku
Hambatan regulasi emosi dan pola perilaku yang mengganggu fungsi sosial dan akademik anak.
MDVI (Multi-Sensory Impairment)
Hambatan penglihatan berat yang dikombinasikan dengan hambatan intelektual atau hambatan lain yang signifikan.
Tunaganda
Kombinasi dua atau lebih jenis hambatan secara bersamaan yang memerlukan penanganan multi-disiplin.
Cara Kerja
Hanya 4 Langkah Mudah
Buat Akun
Daftar gratis menggunakan email. Tidak diperlukan kartu kredit.
Tambahkan Data Anak
Masukkan profil anak yang ingin diidentifikasi hambatan belajarnya.
Isi Kuesioner
Jawab pertanyaan observasi sesuai perilaku anak yang Anda amati sehari-hari.
Lihat Hasil
Dapatkan laporan otomatis dengan tingkat indikasi dan rekomendasi tindak lanjut.
Fakta Unik
Alasan Kita Harus Mulai Mengenali Sedari Dini
Kapan guru dan orang tua harus memulai tes ini? Sekarang — sebelum hambatan semakin dalam dan sulit diatasi.
1 dari 10 Anak SD Memiliki Kebutuhan Khusus
Berdasarkan riset terkini di Indonesia, diperkirakan 1 dari setiap 10 anak usia sekolah dasar memiliki hambatan belajar yang memerlukan perhatian khusus dari guru dan orang tua.
Identifikasi Dini Meningkatkan Hasil Intervensi 70%
Penelitian menunjukkan bahwa anak yang diidentifikasi dan mendapatkan intervensi sebelum usia 8 tahun memiliki peluang perkembangan optimal 70% lebih tinggi dibandingkan yang terlambat dikenali.
Guru Adalah Garis Terdepan Deteksi Dini
Guru menghabiskan rata-rata 6–7 jam sehari bersama siswa, menjadikan mereka pengamat terbaik untuk mengenali tanda-tanda hambatan belajar yang mungkin tidak terlihat di rumah.
Instrumen ChildSee Berbasis Standar Internasional
Kuesioner identifikasi dalam ChildSee disusun mengacu pada panduan WHO dan DSM-5 yang telah diadaptasi untuk konteks pendidikan dasar di Indonesia, sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Lebih dari 90% Kasus ABK Belum Teridentifikasi
Survei Kementerian Pendidikan mengungkapkan bahwa lebih dari 90% anak berkebutuhan khusus di tingkat SD belum pernah mendapatkan asesmen formal, sehingga kebutuhannya sering tidak tertangani dengan tepat.
Pendidikan Inklusif adalah Hak Semua Anak
Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan inklusif yang mengakomodasi kebutuhan dan potensi uniknya masing-masing.
Tim Pengembang
Tim di Balik Child See
Dikembangkan oleh tim multidisiplin yang berkomitmen pada pendidikan inklusif dan teknologi yang berdampak.
Dosen Pembimbing
Neddyana Pahlawaty, M.Pd
Ketua Tim Penelitian
Universitas Negeri Jakarta
Dr. Septiyani Endang Yunitasari, M.Pd
Anggota Peneliti
Universitas Negeri Jakarta
Kholifatul Novita Ningsih, M.Pd
Anggota Peneliti
Universitas Negeri Jakarta
Anastasia Arta Uli, M.Pd
Anggota Peneliti
Universitas Negeri Jakarta
Prince Clinton Immanuel C.D, M.Pd
Anggota Peneliti
Universitas Negeri Jakarta
Ahasya Isnaini Karim
Anggota Mahasiswa Peneliti
MahasiswaHanina Maraya
Anggota Mahasiswa Peneliti
MahasiswaMuhammad Ramdhan Syakirin, S.Kom
Lead Developer & UI/UX
Tim EksternalBina Cita Indonesia
Mitra Pengembangan Layanan
Tim EksternalLegalitas & Inovasi
Info HKI / Paten
Kolaborasi
Partner Pusat Tumbuh Kembang
Bermitra dengan lembaga terpercaya untuk memberikan layanan tumbuh kembang anak yang komprehensif.
Bina Cita Indonesia (BCI)
Pusat Tumbuh Kembang Anak yang berfokus pada terapi, intervensi dini, dan pendampingan keluarga ABK di wilayah Bekasi dan sekitarnya.
Kunjungi Website →Bina Cita Indonesia (BCI) Bekasi
Cabang Bekasi dari Bina Cita Indonesia, memberikan layanan terapi dan edukasi inklusif untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Kunjungi Website →